Keutamaan Leninisme

Prabhat Patnaik

Ide teoritis dari seorang pemimpin Revolusi Bolsevik, yang akan genap berusia 89 tahun pada minggu ini, selalu dicirikan dengan Marxisme pada era kapitalisme monopoli. Ini benar. Tetapi Leninisme lebih dari itu: Ia adalah teori praktis dari Marxisme. Sebuah teori praktis berarti secara implisit berada di dalam Marxisme itu sendiri; Leninisme membuatnya secara eksplisit, dalam pengertian ini, ia merupakan pengembangan dari Marxisme. Karena praktis berarti adalah kongkret, maka teori praktis harus berelasi dengan kondisi yang kongkret. Dalam kasus Lenin, kondisi yang kongkret saat itu dikondisikan oleh kapitalisme monopoli, maka teori praktis yang dihasilkan juga berhubungan dengan kapitalisme monopoli tersebut. Selain itu, dia tidak hanya menyajikan Marxisme untuk selalu up to date secara temporal, dengan analisa mengenai fase terbaru tentang kapitalisme, tetapi juga untuk menjembatani antara abstraksi teori dengan praktek yang kongkret. Dia mengembangkan teori Marxis, dalam konteks kapitalisme monopoli, ke level dimana, apa yang disebut oleh George Lukacs, sebagai “teori yang menerobos praktek”.

Aktualitas Revolusi

Kita di sini tidak akan mendiskusikan spesifitas dari teori Lenin seperti yang kita tahu. Tetapi kita akan lebih fokus pada pertanyaan: Bagaimana Lenin membangun sebuah teori praktis? Atau dengan kata lain, “Apa titik berangkat epistemologis yang memungkinkan ia “mempertebal” teori Marxis ke titik yang bisa menutupi celah antara teori dan praktek?” George Lukacs dalam bukunya, Lenin: A Study in the Unity of His Thought, menyediakan penjelasan yang meyakinkan atas pertanyaan di atas, yaitu bahwa Lenin selalu berada dalam pikiran aktualitas revolusi. Bagi dia, Revolusi bukan sesuatu yang, seperti kita asumsikan, akan datang pada kita suatu hari yang tidak diketahui nanti, tak terprediksi dan dengan cara yang tak terduga. Sebaliknya, dia secara konsisten terlibat dalam memetakan sebuah rute dari sini dan sekarang dalam satu sisi, dan revolusi di sisi lain. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai sebuah tujuan, adalah bukan soal baginya, bahkan itu dianggap sebuah pertanyaan yang salah. Ini bukan soal waktu dalam sebuah perjalanan, tetapi soal rute yang harus diperhatikan. Bahwa kondisi yang berubah, juga akan mengubah rute untuk menujunya. Tetapi poin dasar bagi metode Leninis adalah kenyataan saat ini harus dinilai dan dipahami dalam konteks jalan yang dapat menuju pada sebuah revolusi, dari perspektif bahwa revolusi adalah hal yang nyata, yang akan memberikan jalan panduan dari sekarang.

Keterlibatan total Lenin dengan “aktualitas revolusi” dapat dipahami sebagai metode alternatif bagi kesadaran masa kini, bahwa setiap momen yang merupakan perubahan kenyataan, dipahami dari perspektif revolusi. Ini cara dia mengenali kenyataan saat ini. Melihat secara beda dari sudut pandang saat ini, sebagaimana yang dipahami Lenin, revolusi di depan tidak hilang dalam kabut, tidak juga tak terlihat dalam pandangan kita. Tetapi itu selalu dalam pandangan, meskipun kita tak tahu berapa lama menujunya.

Titik Berangkat Lenin

Persepsi ini bertentangan dengan spontanisme yang menjadi sumber penyimpangan kaum Kiri dan Kanan. Penyimpangan pada kaum Kiri berasal dari kepercayaan bahwa “karena revolusi akan terjadi suatu hari nanti ketika kondisi yang memungkinkan itu sudah matang, maka yang perlu kita lakukan sekarang dan di masa mendatang adalah melaksanakan propaganda umum untuk itu, tanpa harus “mengotori” tangan kita dengan pekerjaan organisasional sehari-hari yang membosankan di Partai dan front massa.” Sedangkan, penyimpangan kaum Kanan timbul dari hal yang hampir mirip, yaitu sebuah kepercayaaan bahwa “revolusi akan terjadi suatu hari nanti ketika kondisi yang memungkinkan itu sudah matang, maka yang perlu kita lakukan sekarang dan di masa mendatang, cukup dengan pekerjaan sehari-hari di Partai dan front massa, kemudian menyerahkan semuanya pada sejarah.” Persepsi mengenai “aktualitas revolusi”, yang menjadi titik berangkat Lenin, melampaui kemungkinan dari kedua deviasi tersebut, dan menyediakan dasar tidak hanya untuk praktek revolusioner yang benar, namun juga untuk teori dari praktek revolusioner yang benar. Ini bukan berarti bahwa hal-hal yang selalu berubah dari apa yang mereka duga, ternyata tak ada spontanitas di dalamnya. Tetapi, rekognisi dari sebuah fakta saja tidak dapat menjadi titik berangkat dari sebuah teori revolusioner yang saintifik. Titik berangkat tersebut berasal dari pengakuan akan kebutuhan untuk menjaga aktualitas revolusi dalam fokus, dan untuk merencanakan jalan, yang kemungkinan berubah sesuai dengan perubahan kondisi, antara sekarang dan revolusi.

Pendekatan ini secara fundamental berbeda dari apa yang kita sebut sebagai, “teori tahapan”, yang menyatakan bahwa tahapan kapitalisme, yang setelah mencapai batasnya, akan diikuti oleh tahapan sosialisme. Setelah pemahaman ilmiah tentang “proses sejarah secara keseluruhan” telah dikembangkan, yang dilakukan oleh Marxisme dan proletariat muncul di muka, juga dengan kemunculan kapitalisme, kombinasi keduanya menghasilkan kekuatan yang kuat yang dijiwai dengan semangat revolusioner ilmiah. Dengan dibawanya sciences ke proletariat, teori tahapan menjadi tidak relevan. Hal ini tidak lagi sebuah studi skolastika tentang tahapan, tapi sebuah studi dari perspektif kekuatan revolusioner, yang akan tetap menjaga pandangan mengenai aktualitas revolusi, yang mana menjadi rute untuk mengambil jalan dari sini dan sekarang untuk sebuah revolusi.

Revolusi Demokratis dan Praktek Marxis

Di dalam masyarakat yang terbelakang dimana revolusi borjuis tidak tuntas, di sini kekuatan revolusioner tidak perlu menunggu revolusi borjuis untuk tuntas terlebih dahulu, sebelum itu harus membuat entry point untuk perjuangan revolusi sosialis. Sebaliknya, kekuatan revolusioner perlu untuk mengambilalih revolusi borjuis itu sendiri, menegaskan hegemoni sendiri pada proses revolusi borjuis itu, dan setelah melakukannya, lalu melaksanakan secara sempurna, paling konsisten, revolusi borjuis yang paling lengkap, seperti melawan semua batasan, ragu-ragu dan enggan akan perubahan, berdasarkan kepada kompromi dengan kelas yang berkuasa, yang mana kelas borjuasi namakan sebagai “revolusi borjuis”. “Revolusi borjuis” dalam agenda pemerintahan Kerensky bukanlah revolusi borjuis yang merupakan agenda Bolsevik. Revolusi proletariat tertarik dalam melaksanakan revolusi borjuis yang paling menyeluruh, jauh lebih dari kekuatan borjuis manapun mampu lakukan. Seperti yang Lenin nyatakan, “ dalam arti tertentu, sebuah revolusi borjuis lebih menguntungkan bagi proletariat daripada borjuasi” (Selected Works (3 jilid), Vol. 1, p.452, Moskow, 1976).

Tetapi, setelah mengambil alih revolusi borjuis, setelah memiliki persediaan kepemimpinan untuk membuatnya sepenuhnya konsisten dan lengkap, kaum proletar tidak menarik diri dari “panggung” sehingga memungkinkan revolusi borjuis untuk membuang potensi penuhnya, ia muncul kembali lagi untuk memperjuangkan revolusi sosialis. Hal ini membawa revolusi borjuis ke revolusi sosialis. Keduanya memiliki tautan melalui proses sejarah yang Lenin antisipasi jelas dalam karyanya “Dua Taktik Sosial Demokrasi dalam Revolusi Demokratik: “Kaum proletar harus membawa revolusi demokratik sampai selesai, bersekutu dengan massa kaum tani untuk menghancurkan perlawanan otokrasi dengan kekuatannya dan melumpuhkan ketidakstabilan borjuis. Kaum proletar harus menyelesaikan revolusi sosialis, bersekutu dengan massa elemen semi-proletar, untuk menghancurkan perlawanan kaum borjuis dengan kekuatannya, dan melumpuhkan ketidakstabilan kaum tani dan kaum borjuis kecil” (op.cit. P 0,494).

Terjerumus dalam “Teori Tahapan”/Stages Theory

Oleh karena itu, bahkan ketika proletariat meletakkan dasar bagi pembangunan kapitalis, hal yang penting adalah harus membedakan diri dari cara kaum borjuis meletakkan dasar untuk perkembangan kapitalis. Oleh karena itu, ketika partai proletariat menemukan dirinya secara historis dalam posisi dimana mereka harus membangun kapitalisme, caranya haruslah berbeda dengan cara partai borjuis membangun kapitalisme. Keduanya tidak bisa identik. Jika partai proletariat membangun kapitalisme dengan cara yang persis sama dengan partai borjuasi lakukan, atas dalih bahwa sejak tahapan kapitalisme adalah agenda historis, dan karena itu harus melewati tahapan ini, maka tindakan itu tidak berbeda dengan partai-partai borjuis, dan dengan demikian mereka kehilangan pandangan “aktualisasi revolusinya,” terjerumus ke dalam teori tahapan, dan dalam prosesnya mengadopsi epistemologi yang direpresentasikan dari titik berangkat Leninisme. Teori tahapan secara fundamental menentang Leninisme. Teori tahapan terkait dengan spontanisme, yaitu keyakinan implisit bahwa “hal tersebut akan terjadi pada mereka sendiri ketika waktu yang tepat datang.”

Kolapsnya Uni Sovyet tidak diragukan lagi terkait dengan beberapa faktor, tetapi apa yang penting adalah bahwa awal teoritis kolapsnya adalah karena “iman” spontanisme, sebuah pengabaian terhadap perspektif aktualisasi revolusi. Ketika Mikhail Gorbachev memperkenalkan reformasi dalam sistem politik dan ekonomi dari Uni Soviet, ia sangat ingin menekankan, bahkan dengan kebanggaan, bahwa implikasi dan konsekuensi dari reformasi belum dipikirkan. Hasil ini singkatnya ditentukan oleh “sejarah”, yang dilihat sebagai kekuatan spontan, bukan sejarah yang ditentukan oleh praktek revolusioner. Hal ini adalah kebalikan dari perspektif Leninis, karena perspektif Leninis dari “aktualitas revolusi” itu dimaksudkan justru untuk membuat sejarah melalui intervensi praktek revolusioner. Ini adalah pelajaran bahwa Revolusi Bolsevik yang terwujud melalui penerapan perspektif Leninis melawan spontanisme, harus runtuh dengan penerapan perspektif spontanis melawan Leninisme.

Posisi yang Keliru

Mungkin saja terpikirkan bahwa sejak konjungtur saat ini jauh berbeda dari semasa Lenin hidup, semua perdebatan ini telah menjadi tidak relevan. Apa gunanya berbicara tentang “aktualitas revolusi” ketika tidak ada prospek revolusioner yang jelas di horizon, ketika sosialisme telah menerima kemunduran di seluruh dunia, ketika, meskipun cahaya yang samar-samar ada di Amerika Latin, gelombang kontra-revolusioner terus menyerang dan ketika hegemoni modal keuangan internasional dalam kekuasaan penuh? Tentunya kita hidup di zaman yang berbeda dan kita harus “menyesuaikan” dengan waktu. Posisi ini bagaimanapun adalah posisi yang empiris dan keliru. Sudut pandang “aktualitas revolusi” tidak ada hubungannya dengan apakah revolusi sudah dekat atau belum. Ini adalah poin epistemologis yang mendasar tentang titik berangkat pemahaman Marxis, yaitu untuk melihat setiap momen, setiap saat, dari perspektif revolusi, dengan memetakan tujuan revolusioner, dengan memetakan tujuan jangka pendek dalam praksis revolusioner, yang bebas dari spontanisme dan disebut tahap teori. Hal ini, seperti Lenin telah tunjukkan, adalah satu-satunya cara seorang Marxis untuk memahami realitas, satu-satunya dasar untuk praktek Marxis yang benar. Hal ini tetap benar sebagaimana dalam masa Lenin; konjungtur spesifik tidak ada hubungannya dengan itu. Sentralitas Leninisme dalam pengertian dasar ini tidak berubah sedikit pun, meskipun konjungtur tertentu dimana Lenin hidup mungkin berbeda dari kita.

Diterjemahkan oleh Rio Apinino dan Dicky Dwi Ananta dari laman http://archives.peoplesdemocracy.in/2006/1112/11122006_prabhat.htm.

1 COMMENT

  1. ingin menyampaikan bahwa kapums-kampus adalah sumber ancaman bagi Amerika Serikat. Dengan mengutip Antonio Gramsci, Horowitz menyebutkan bahwa gerakan kaum kiri untuk menumpas para pengikut ideologi kapitalis

LEAVE A REPLY