Selamat IDUL FITRI Kaum Miskin: Kami Akan Terus Berjuang Bersamamu!

Puasa tidak hanya bermakna vertikal, tetapi juga bermakna horizontal. Menahan lapar dan haus selain upaya untuk menahan hawa nafsu, juga upaya untuk merasakan kehidupan masyarakat sekitar yang hidup dalam kekurangan. Tak mengherankan puasa kemudian ditutup dengan kewajiban membayar zakat fitrah yang distribusikan kepada fakir miskin. Sehingga, ketika lebaran tiba tidak ada anggota masyarakat yang kelaparan. Inilah makna horizontal ibadah puasa.

Puasa yang memiliki makna horizontal inilah yang sering dilupakan. Kapitalisme telah mengambil alih puasa menjadi ajang untuk menghambur-hamburkan uang dengan berbuka puasa dan buka bersama secara berlebihan. Akibatnya, tujuan puasa yang sangat bagus menjadi bulan belanja ini itu, bukan meneguhkan solidaritas kepada sesama yang hidup dalam kekurangan. Kita lupa bahwa di luar sana masih banyak orang-orang yang sepanjang tahun berpuasa karena tidak mampu membeli makanan.

Puasa sebagai rangkain menuju hari kemenangan (lebaran) merupakan proses untuk lebih peka dengan lingkungan sosial. Puasa mengajarkan untuk bersolidaritas kepada saudara-saudara kita yang dimiskinkan oleh kapitalisme. Kita tahu kapitalisme membuat pemilik modal tidak mempunyai kekang untuk menumpuk kekayaan sementara membiarkan jutaan orang hidup dalam kemiskinan. Hawa nafsu dalam menumpuk harta kekayaan inilah yang menimbulkan derita pada orang lain. Puasa mengajarkan kita untuk menahan hawa nafsu. Puasa mengajarkan bahwa disetiap harta yang dimiliki ada hak orang-orang miskin.

Puasa sebagai bulan yang penuh berkah seharusnya menebalkan semangat untuk melawan segala bentuk kesewenang-wenangan. Sebagaimana semangat bulan puasa yang mengajarkan tentang rasa derita orang-orang miskin menjadi momentum untuk melakukan refleksi diri mengapa mereka bisa miskin? Puasa mengajarkan semangat ta’awun, artinya semangat saling menolong. Dengan kata lain, yang berpunya menolong yang kekurangan. Cara menolong bisa bermacam-macam. Pertama, memberikan bantuan langsung. Ini yang banyak dilakukan yaitu memberikan sedekah kepada orang-orang miskin. Kedua, ikut mencari akar kenapa orang-orang bisa miskin. Bila akarnya ketemu kemudian saling menolang untuk memecahkan persoalan tersebut. Artinya, berjuang bersama-sama orang miskin.

Bulan puasa mengajarkan untuk membantu tanpa pamrih. Semangat inilah yang semestinya mengikuti sepanjang tahun sehingga menumbuhkan solidaritas yang tanpa henti kepada orang-orang miskin. Manusia hidup dalam lingkungan sosial yang timpang dan tidak adil. Situasi inilah yang mesti diubah agar kesejahteraan bisa menyebar sehingga seluruh manusia bisa bahagia sebagaimana bahagianya orang yang berbuka puasa. Membantu tanpa pamrih bermakna bahwa bantuan itu bukan diberikan karena sedang berpuasa, namun kesadaran bahwa ada kewajiban membantu orang miskin dengan berjuang bersama mereka tanpa imbalan apapun. Semangat yang telah ditempa selama puasa diharapkan bisa terjaga terus-menerus sehingga menumbuhkan sikap konsisten berada di tengah-tengah orang miskin untuk berjuang mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bersama. Tujuannya tentu saja agar tidak ada orang yang tidak makan di luar bulan puasa. Semuanya bisa menikmati hidup yang berkecukupan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Setelah puasa usai, lebaran datang. Lebaran identik dengan kata mudik. Hari-hari ini kita bisa membaca berita ketika mudik telah dimulai. Moda transportasi sudah mulai dipenuhi oleh para pemudik.Jalanan padat. Orang-orang sedang berjalan menuju kampung halaman.

Selama pandemi ini kehidupan serba sulit. Pandemi telah menghantam sendi-sendi kehidupan ekonomi masyarakat. Orang tidak bisa bekerja secara maksimal karena sering terjadi pembatasan gerak. Tahun ini padami Covid 19 mulai mereda sehingga pemerintah tidak lagi melarang melakukan mudik. Tentu saja hal ini disambut dengan suka cita oleh warga masyarakat. Pulang kampung telah menjadi nyata. Siatuasi ini diharapkan bisa menumbuhkan solidaritas sosial yang bisa menggerakkan ekonomi warga.

Lebaran tentu bukan hari-hari untuk berhura-hura. Sebagaimana disampaikan Clifford Geertz dalam bukunya The Relegious of Java, lebaran merupakan momentum untuk pembahuran sosial. Orang miskin membaur dengan orang kaya untuk saling maaf memafaafkan. Strata sosial berubah menjadi integrasi sosial sehingga perbedaan status sosial menjadi melebur. Saat inilah semua orang diharapkan bisa berbahagia. Setelah zakat dibagikan dan diharapkan tidak ada orang kelaparan disaat lebaran, maka diharapkan tidak ada ada lagi penderitaan. Semangat inilah yang mestinya terus dijaga sehingga orang-orang miskin tidak hanya tidak menderita disaaat lebaran saja, tetapi juga sepanjang tahun.

Integrasi sosial yang disampaikan Geertz diharapkan terjadi persatuan untuk melawan kesewenang-wenangan sosial yang masih membayangi kehidupan kita. Dari status sosial yang berbeda, etnis yang berbeda, latar lingkungan sosial yang berbeda bersatu melawan ketidakadilan yang masih merajalela. Sehingga setiap orang tidak hanya bisa berbagai disaat lebaran saja, namun bisa bahagia sepanjang tahun demi tahun. Bila lebaran bisa menumbuhkan semangat seperti itu, maka kehidupan yang sejahtera akan bisa menyinari bumi manusia.

 

Puisi karya A. Mustofa Bisri bisa menjadi bahan renungan:

 

Selamat idul fitri, para

Pemimpin

Maafkan kami

Selama ini

Tidak habis-habis

Kami membiarkanmu

 

Selamat idul fitri, rakyat

Maafkan kami

Selama ini

Tidak sudah-sudah

Kami mempergunakanmu.

 

Selamat Idul Fitri. Perjuangan terus berlanjut. Raih kemenangan untuk masyarakat yang adil dan sejahtera. Mohon maaf lahir dan batin. ***

 

Dika Moehammad, Sekretaris Nasional Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (SPRI)

LEAVE A REPLY